Wijaya Laksana
Dikirimkan oleh Pada 03 Mei 2017

The Tipping Point : Rahasia Mewabahnya Sebuah ide

Oleh : Wijaya Laksana

Bagaimana sesuatu bisa menjadi viral? Menyebar tak terkendali seperti virus flu? Bagaimana sepotong kue di Bandung bisa menciptakan antrian berpuluh meter panjangnya? Dan kenapa anak-anak perempuan ABG begitu tergila-gila dengan mainan empuk bernama Squishy?

Sebuah berita viral, bisa jadi sekarang ini selalu menghiasi mimpi para praktisi PR. Berita viral yang positif dan baik, tentunya menjadi mimpi indah, namun berita viral yang menghancurkan reputasi perusahaan jelas menjadi mimpi buruk seorang praktisi PR. Sepertinya tidak ada rumus baku yang bisa meramalkan sesuatu atau sebuah ide bisa menyebar dengan luas dan menjadi sangat populer. Sebuah produk bisa menghabiskan miliaran rupiah untuk biaya iklan, tapi belum tentu produknya bisa dikenal dan menjadi pembicaraaan masyarakat. Tapi sebaliknya, tanpa biaya sepeserpun, sesosok macan lucu murah senyum dari Cisewu malah bisa menggemparkan, sekaligus menghibur para netizen Indonesia, selama beberapa pekan.  Apa sebenarnya kunci penyebaran sebuah ide? Dalam buku ‘The Tipping Point’, Malcolm Gladwell mencoba mengungkap rahasia penyebaran sebuah ide. Buku ini ditulis tahun 2000, meski demikian ide-ide yang dituangkan Gladwell dalam buku ini ternyata masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi teknologi saat ini. Dalam buku tersebut, Gladwell menjelaskan tiga kunci keberhasilan menyebarnya sebuah ide: The Power of The Few, The Stickiness Factor dan The Power of Context.

The Power of The Few
Menurut Gladwell, tidak semua orang mempunyai bakat atau kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Sebuah pesan atau ide, sebagus apapun ide itu, belum tentu akan menyebar luas bila tidak disampaikan oleh orang yang tepat. Sebuah trend, seringkali diawali justru oleh segelintir orang. Orang ini, tidak harus selebriti atau tokoh penting, tapi mempunyai sejumlah karakter yang oleh Gladwell dibagi ke dalam tiga golongan ; Maven, Connector dan Salesmen. Maven adalah orang yang mempunyai pengetahuan, keahlian atau informasi, Connector adalah mereka yang mempunyai jaringan pertemanan dan relasi yang luas, sedangkan Salesmen adalah mereka yang mempunyai bakat mempengaruhi atau membujuk orang lain.

The Stickiness Factor
Faktor berikutnya yang membuat sebuah pesan menjadi viral adalah The Stickiness Factor. Untuk menjadi viral, sebuah ide harus mudah diingat, mudah dikenali dan mudah lekat dalam ingatan. Gladwell memberi contoh bagaimana para produser TV acara anak-anak Sesame Street melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan formula acara TV anak yang bukan hanya digemari, tapi juga melekat dalam ingatan anak-anak.

The Power of Context
Faktor yang tak kalah penting dalam  memopulerkan sebuah pesan adalah kekuatan konteks. Sesuatu dapat menjadi terkenal karena faktor waktu, tempat dan keadaan yang tepat. Sebuah ide dapat diterima seseorang sangat tergantung dari kondisi yang mengelilingi orang tersebut. Segelas air es, tentunya menjadi sebuah kenikmatan tak terhingga saat disajikan di hari yang panas, tapi menjadi tidak berguna bagi mereka yang sedang kedinginan.

The Tipping Point : Rahasia Mewabahnya Sebuah ide
Banyak kasus yang dapat menjadi contoh teori Gladwell ini sebenarnya. Upaya pemberantasan kapal asing pencuri ikan, misalnya. Belum tentu isu tersebut menjadi isu hangat bila disitu tidak ada Bu Susi Pujiastuti yang sangat karismatik. Belum tentu masyarakat memperhatikan bila tidak dilakukan pemboman dan penenggalaman kapal yang secara visual sangat dramatis, dan tentunya belum tentu masyarakat akan mendukung bila konteks kedaulatan negara tidak sedang hangat saat itu.

Kisah pramugari Garuda, Vera, yang dengan tulus menggendong penumpang lansia, juga memenuhi komponen-komponen yang diungkapkan Gladwell. Pelakunya yang cantik, momennya yang unik, serta muncul dalam konteks ketika masyarakat tengah menggunjingkan isu pelayanan dunia penerbangan, menjadikan kisah ini begitu viral, terutama di sosial media. Bahkan, Vera juga mendapatkan penghargaan atas aksi humanisnya tersebut.

Rumus Gladwell ini sekilas tampak sederhana, tapi tentunya tidak semudah itu dapat diterapkan. Banyak trend yang tercipta di dunia, menurut Gladwell, justru karena faktor ketidaksengajaan. Namun dengan teknologi informasi saat ini, serta semakin berkembangnya ilmu komunikasi, khususnya ilmu PR, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi praktisi PR untuk menemukan kreasi-kreasi PR yang dapat menjadi viral. Menurut Gladwell, layaknya penyebaran wabah virus, penyebaran ide atau pesan juga memiliki Tipping Point, atau titik balik yang menjadi momen krusial penyebaran ide tersebut. Bagaimana kita dapat menemukan Tipping Point atas ide-ide kita sekaligus mendeteksi titik balik dari berita ataupun  isu yang dapat berdampak negatif terhadap organisasi kita, menurut saya, adalah sebuah tantangan yang sangat menarik.

  Wijaya Laksana

- Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia (Persero)
- Ketua Bidang Kompetensi FH BUMN

Beranda Inspirasi Catatan dari Kawan The Tipping Point : Rahasia Mewabahnya Sebuah ide